Petani SPI Caringin Sukabumi Siap Pertahankan Lahan Dari (Alat Berat) Perusahaan Yang Ingin Hancurkan Lahan

sukabumi caringin

SUKABUMI. Ratusan petani anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) dari dua desa di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, siap mempertahankan lahannya dari ancaman penghancuran dan penggusuran oleh alat berat milik PT Suryanusa Adicipta (SA).

Bubun Kusnadi, Ketua SPI Basis Pasirdatar Indah menyampaikan, sejak bulan lalu petani SPI telah bersiaga, mempertahankan lahannya dari PT SA.

“Pada Senin 10 April 2017 kami telah mendatangi kantor PT Suryanusa Adicipta (SA). Petani memprotes keberadaan alat berat milik mereka,” kata Bunbun.

Bunbun menjelaskan, telah banyak upaya mediasi yang dilakukan. Ia menjelaskan, pada 9 Mei 2017 diadakan pertemuan di Pendopo Bupati Sukabumi yang dipimpin oleh Sekda Kabupaten Sukabumi dan dihadiri oleh Kepala BPN Kab. Sukabumi, Kabag Ops Polres Sukabumi, Kasdim KODIM 0607, Petani SPI dan PT. SA. Hasil dari pertemuan tersebut yakni akan diadakan rapat lanjutan.

“Namun pada tanggal 15 Mei 2017, perusahaan melanggar hasil pertemuan dengan memaksa untuk mengoperasikan alat berat. Kejadian ini diperkeruh dengan kehadiran kelompok masyarakat bayaran perusahaan dalam jumlah banyak yang bukan merupakan petani atau warga setempat. Perusahaan memaksudkan untuk mengadu domba petani, akan tapi petani anggota SPI tetap solid dan kompak melakukan penghadangan sehingga operasi dibatalkan,” paparnya.

Bunbun melanjutkan, pada 16 Mei 2017 kembali diadakan rapat di Pendopo Bupati Sukabumi. Pertemuan ini menghasilkan keputusan bahwa Pemda akan membuat tim kecil untuk melakukan sosialisasi kembali kepada petani yang lahannya akan terlewati oleh pembagunan jalan perusahaan pada hari Rabu 17 Mei.

Anak-anak petani SPI Caringin, ikut turun ke lahan milik orangtuanya, ikut berjuang mempertahankan lahan.

Anak-anak petani SPI Caringin, ikut turun ke lahan milik orangtuanya, ikut berjuang mempertahankan lahan.

“Namun pertemuan dibatalkan sepihak oleh perusahaan, kemudian perusahaan berusaha untuk melakukan pengoperasian alat berat. Upaya pengoperasian itu kembali dihadang oleh para petani. Petani tetap menolak rencana kegiatan perusahaan yang akan membangun jalan sebagai penunjang resort dan agrowisata,” lanjut Bunbun.

Rozak Daud, Ketua Badan Pelaksana Cabang (BPC) SPI Kabupaten Sukabumi menjelaskan, sekitar tahun 1998, lahan ini mulai ditanami oleh warga setempat dan petani.

“Tiba-tiba saat ini mau digusur untuk aktifitas perusahaan. Ini kan aneh,” ungkapnya.

Rozak menambahkan, petani SPI tidak akan bergeming dan meninggalkan lahannya, karena lahan ini adalah sumber penghidupan bagi petani.

“Ini lahan kami, ini tanah kami, ini tanaman kami. Kami tidak akan mundur, karena kami membangun kehidupan dari sini, menegakkan kedaulatan pangan di daerah ini,” tegasnya.

Speak Your Mind

*