Sesi ke-36 Dewan HAM PBB: Draft Deklarasi Hak Asasi Petani dan Masyarakat Yang Bekerja di Pedesaan Disetujui

hs_jenewa

Henry Saragih, Ketua Umum SPI (memakai peci) membacakan pidato mewakili petani seluruh dunia di Sesi ke-36 Dewan HAM PBB

JENEWA. Dewan HAM PBB menutup sesi ke-36 di Jenewa, Swiss dengan merilis resolusi bernomor (A/HRC/36/58) tentang “kelompok kerja terbuka antar pemerintah mengenai draf deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai hak-hak petani dan masyarakat yang bekerja di daerah pedesaan (22/09).

Dalam momen tersebut, Henry Saragih berpidato mewakili Serikat Petani Indonesia (SPI) dan La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional). Ia menyampaikan SPI, La Via Campesina, serta gerakan masyarakat sipil dunia lainnya telah berjuang bertahun-tahun menginisiatifi agar tercipta sebuah deklarasi dari PBB yang mengakui hak asasi petani.

Diwarnai dengan penolakan dari pemerintah Amerika Serikat dan Inggris, akhirnya sesi ke-36 ini berhasil menyetujui draft deklarasi, berkat dukungan negara-negara Islam, negara-negara Amerika Latin, dan tentunya Indonesia.

“Faktanya adalah proses deklarasi ini berawal dari sebuah desa Indonesia, dan daerah lain di Asia sejak tahun 2001. Hal ini tentu saja membuktikan kalau kita sekarang berada di fase yang sangat penting dalam proses kebijakan bottom-up, kebijakan yang inisiatifnya berasal dari akar rumput, dari rakyat,” kata Henry Saragih dalam pidatonya (22/09).

Henry melanjutkan, petani kecil butuh pengakuan dan perlindungan lebih lanjut untuk hak-haknya, terutama hak atas tanah, benih, keanekaragaman hayati, akses akan keadilan, dan yang paling penting hak petani perempuan dan buruh perempuan yang bekerja di daerah pedesaan.

“Kami akan terus mendukung proses ini dan berharap deklarasinya akan diadopsi pada tahun 2018. Oleh karena itu kami dengan ini menyatakan dukungan penuh kami untuk pengadopsian resolusi hak asasi petani dan masyarakat yang bekerja di daerah pedesaan yang diajukan oleh Bolivia,” paparnya.

Henry menambahkan, deklarasi PBB atas hak asasi petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan akan menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan hanya demi petani kecil, namun juga demi dunia yang lebih baik untuk generasi kita mendatang.

“Akhirnya, kami menantikan keterlibatan yang konstruktif dalam diskusi-diskusi selama sesi ini dan kami juga meminta agar negara-negara juga mendukung lahirnya deklarasi ini,” tambahnya.

“Mari kita sama-sama berdoa agar pada Hari Tani tahun depan draft ini sudah disahkan menjadi sebuah deklarasi di rapat umum PBB di New York. Dengan demikian deklarasi ini nantinya bisa diadopsi di tiap negara dan dipakai untuk memperkuat perjuangan menegakkan hak asasi petani,” tutupnya.

 

Speak Your Mind

*