Agroekologi Petani Solusi Krisis Iklim: La Via Campesina di COP 23, Bonn, Jerman

Cop-23-3-765x265

BONN. “Petani kecil dan masyarakat adat memberi makan masyarakat dunia dan mendinginkan planet”. Hal inilah yang menjadi acuan bagi para delegasi La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) ketika tiba di kota Bonn, Jerman, untuk menghadiri pertemuan COP23 (Konferensi yang digelar oleh UNFCCC, Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa), pada 6-17 November 2017. Acuan ini didesakkan oleh delegasi La Via Campesina baik di acara resminya maupun di pertemuan gerakan sosial yang dirancang paralel sebagai alternatif dari solusi kapitalis atas perubahan iklim yang ditawarkan pada acara resmi.

Berdasarkan riset dari ETC Group (organisasi internasional yang mendedikasikan dirinya terhadap konservasi dan keberlanjutan pengembangan keragaman budaya dan ekologi dan hak asasi manusia), petani dan masyarakat adat adalah satu-satunya penyedia makanan untuk 70 persen populasi dunia, dan mereka hanya menggunakan 30 persen sumber daya alam bumi untuk menghasilkan pangan yang tersaji di atas meja kita setiap hari.

Michaelin Sibanda, pemuda tani asal ZIMSOFF, ormas tani asal Zimbabwe menyampaikan dengan memegang prinsip agroekologi ia tidak pernah mengaplikasikan bahan kimia ke lahan pertaniannya dan terus mengembangkan serta melestarikan benih dari zaman dahulu yang tahan terhadap perubahan iklim.

Prinsip-prinsip dari agroekologi adalah membantu meestarikan air, tanah, dan benih. Meski demikian, bagi La Via Campesina, agroekologi juga bersifat politis.

“Terbukti, ada ketahanan dalam agroekologi, dan ketahanan juga merupakan perlawanan – ini terkait dengan cara kita mengorganisir secara kolektif, mengumpulkan proposal konkret untuk perubahan yang didukung oleh kerja-kerja dan perjuangan di wilayah kita yang berbeda,” jelas Jesús Vázquez, seorang pemuda dari Organisasi Boricuá Agroekologi di Puerto Riko.

Jesus Vazquez menyampaikan, pada September 2017, Puerto Riko hancur oleh hantaman dua bencana yang sangat merusak semua aspek kehidupan di sana, termasuk produksi pangan.

Ia menyampaikan, dalam konteks badai ini, kami telah menyaksikan bahwa praktik-praktik agroekologi lebih tahan terhadap fenomena cuaca ekstrem. Banyak akar-akaran dan umbi-umbian yang telah tercerabut.

“Banyak petani kecil di sini yang sudah kembali ke ke ladang dan menanam tanam meskipun Menteri Pertanian mengatakan bahwa pertanian benar-benar hancur di seluruh pulau. Kami di sini untuk mengingatkan pemerintah bahwa perubahan itu pasti sistemik,” tegasnya.

Usul dari La Via Campesina dan aliansinya untuk mengatasi krisis iklim telah sampai pada akar permasalahan; kontrol perusahaan atas pengambilan keputusan dan proses akhir dari kasus perampasan tanah dan air, kriminalisasi petani dan pelanggaran hak asasi manusia dalam rantai pasokan transnasional yang digunakan untuk menghasilkan makanan.

“Pada negosiasi iklim, pemerintah mengajukan solusi-solusi palsu. Kami menyebut mereka palsu karena usulan ini tidak membawa perubahan nyata tapi, lebih tepatnya, meningkatkan keuntungan perusahaan, “kata Fanny Metrat, dari Confédération Paysanne, organisasi petani Prancis.

“Pasar karbon, geoengineering, apa yang disebut pertanian cerdas iklim sedang dipromosikan oleh orang-orang yang sama yang juga mempromosikan produksi ternak intensif-emisi dan pertanian industri berbasis ekspor yang membutuhkan sejumlah besar bahan bakar fosil. Ini kontradiksi besar,” jelasnya.

Di COP23, kontradiksi ini menjadi jelas. Pemerintah Jerman, pendukung besar ekonomi hijau, telah memposisikan dirinya sebagai ujung tombak untuk mengatasi perubahan iklim sembari juga memperluas produksi batubara – bahan bakar fosil paling kotor di planet ini. Delegasi internasional La Via Campesina bergabung dengan 4.000 orang dari Ende Gelände (Here and No Further), melakukan jalan bersama, ikut berpartisipasi dalam aksi pembangkangan sipil terhadap perusahaan pertambangan terbesar di Jerman, KWE, memperkuat pesan bahwa tindakan terpenting untuk mengatasi krisis iklim, adalah untuk menjaga bahan bakar fosil tetap berada di dalam tanah (tidak ditambang, dipergunakan).

COP23_LVC

Bernd Schmitz, dari Arbeitsgemeinschaft bäuerliche Landwirtschaft (AbL), organisasi petani anggota La Via Campesina di Jerman, menggarisbawahi perlunya perubahan di Jerman.

“Konsekuensi pemanasan global dirasakan di seluruh dunia. Di Jerman, kita mengalami kekeringan ekstrem di beberapa daerah, sementara hujan ekstrem di daerah lainnya. Tahun ini, karena hujan es yang parah, kita kehilangan hampir semua produksi buah di beberapa daerah di Jerman! Pemerintah terlalu lamban menanggapi masalah tersebut. AbL berpendapat bahwa pertanian berbasikan petani kecil, yang mencakup rantai pangan lokal dan produksi pangan ekologis, membantu memecahkan masalah. Sistem ini menggunakan lebih sedikit energi fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca yang berbahaya. Petani kecil di seluruh dunia sangat membutuhkan dukungan untuk memberi makan orang dan mempertahankan penghidupan mereka dalam konteks perubahan iklim,” paparnya.

Pada COP23 kali ini, La Via Campesina telah bergabung dengan komunitas-komunitas terdepan lainnya, termasuk dari delegasi It Takinges Roots dari komunitas yang terkena dampak perubahan iklim yang berbasis di Amerika Serikat dan juga para nelayan dan petani yang tergabung dalam Global Convergence for Land and Water Struggles (Konvergensi Global untuk Perjuangan Tanah dan Air).

Seorang perwakilan dari Global Convergence for Land and Water Struggles asal Mali menekankan pentingnya bekerja sama dalam aliansi untuk mengatasi perubahan iklim dan banyak ketidakadilan.

“Sebagai organisasi akar rumput, kita memiliki perspektif yang sama mengenai masalah dan apa yang kita butuhkan, dan mengatasi masalah tersebut. Kehadiran La Via Campesina memungkinkan komunitas kita didengar (suara dan aspirasinya). Panggilan kita untuk perubahan sistem sangat mendesak karena kerusakannya semakin menanjak. Tanah, hutan dan air, harus dilindungi dan dipulihkan ke masyarakat. Kita perlu bekerja sama dalam aliansi untuk bersiap menghadapi perubahan iklim,” tutupnya.

Speak Your Mind

*