Masa Depan Berada di Pundak Pemuda Tani: Majelis Pemuda Tani Internasional ke-4 La Via Campesina

youth assemby

Angga Hermanda, perwakilan SPI dalam Majelis Pemuda Tani Internasional ke-4 La Via Campesina

BILBAO. Ratusan pemuda tani yang berasal dari 47 negara sedunia berkumpul dalam Majelis Pemuda Tani Internasional ke-4 La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional) di Basque Country, Bilbao, Spanyol, 17-18 Juli 2017. Acara ini sendiri merupakan rangkaian dari Konferensi ke-7 La Via Campesina yang dilaksanakan di lokasi yang sama.

Angga Hermanda, perwakilan pemuda tani Serikat Petani Indonesia (SPI) asal Banten yang hadir dalam acara ini menjelaskan, di Asia Timur dan Asia Tenggara —¬†khususnya Indonesia — korporasi tidak lagi berada di kota untuk mengeluarkan anak muda dari perdesaan dan tanah pertanian. Saat ini korporasi mulai datang ke desa.

“Hal ini yang menjadikan rata-rata kepemilikan tanah petani di bawah 0,3 ha dan keluarga petani menurun secara signifikan sebanyak 5 juta dalam waktu satu dekade terakhir,” kata Angga dalam forum tersebut.

Angga memaparkan, adalah mendesak negara memberikan tanah bagi pemuda untuk bertani melalui reforma agraria.

“Hasilnya kita berkomitmen menjadi penggerak reforma agraria di perdesaan, membangun desa dan mendesak deklarasi hak asasi petani disahkan PBB,” kata Angga.

Angga melanjutkan, dalam isu perdagangan bebas dan perubahan iklim, pemuda tani juga mendesak untuk WTO keluar dari pertanian dan menjadikan agroekologi sebagai solusi perubahan iklim.

“Harapannya pemuda tani¬†di seluruh dunia menjadi penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan melalui reforma agraria dan pemenuhan hak asasi petani. Masa depan berada di pundak pemuda tani,” tambahnya.

Pembukaan Majelis Pemuda Tani Internasional ke-4 La Via Campesina

Pembukaan Majelis Pemuda Tani Internasional ke-4 La Via Campesina

Sementara itu dalam forum juga dipaparkan fakta bahwa di Eropa setiap tiga menit sebuah lahan pertanian menghilang, dan rata-rata usia petaninya adalah 60-an tahun.

“Di Inggris Raya, hanya 1 persen dari total populasi penduduk yang terlibat dalam aktivitas pertanian dan dari yang 1 perse tersebut, petani yang berumur 35 tahun ke bawah jumlahnya tidak sampai 4 persen,” kata pemudi tani asal Inggris Raya anggota Landworker’s Alliance.

Dalam forum ini juga diidentifikasi bahwa strategi untuk menghadapi perubahan iklim dan krisis migran adalah dengan menerapka pertanian agroekologi.

Seorang pemudi tani asal Guatemala mengemukakan, pemuda-pemudi pedesaan tidak memiliki banyak kesempatan di Guatemala, jadi mereka mempertaruhkan nyawa mereka, mengadu nasib dengan mencoba mencapai Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada – dan perubahan iklim memperparah hal ini.

“Agroekologi adalah jalan bagi kita pemuda-pemudi tani untuk terus memperbaharui semangat dan visi pertanian kita,” ungkapnya.

Speak Your Mind

*