Minum Kopi dan Niat Mulia Mensejahterakan Petani (Kopi) Indonesia

Suasana "Minum Kopi" di Malam Hari

Suasana “Minum Kopi” di Malam Hari

MEDAN. Sore itu, seorang pemuda berambut gimbal rapi sedang menyapu lantai kayu sebuah balai yang “terapung” di atas kolam. Di pojokan salah satu sudut, seorang pemuda buntal sedang menarik tirai bambu. Di dinding batu bata yang dicat warna hitam, yang letaknya tepat di luar balai, terdapat sebuah kalimat yang dituliskan dengan cat putih, “membentuk jaring ekonomi yang berdaulat petani dengan terhubung dalam koperasi”. Ya, kami sedang berada di sebuah kedai kopi di daerah pinggiran kota Medan, Sumatera Utara. “Minum Kopi” namanya.

Pemuda gimbal tadi bernama Fandy Ahmad, yang akrab dipanggil “Blek”. Ia adalah manajer dari Minum Kopi. Sambil mengukur biji kopi di atas timbangan digital yang akan diseduh untuk seterusnya dihidangkan ke kami, Blek bercerita sedikit tentang Minum Kopi.

“Jadi kedai kopi ini berada di bawah Koperasi Petani Indonesia (KPI) Medan, koperasinya Serikat Petani Indonesia (SPI),” kata Blek.

Sambil menggiling biji kopinya di gilingan kopi listrik, Blek menyampaikan, Minum Kopi sudah berdiri hampir dua bulan. Pemuda yang masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Sumatera Utara ini menyampaikan, niatan untuk mendirikan Minum Kopi sudah mengemuka sekitar setahun belakangan. Blek yang bergabung dengan komunitas pemuda pecinta pangan lokal Sumatran Youth Food Movement, sudah sering berdiskusi dengan pengurus SPI Sumatera Utara serta Yayasan Sintesa. Diskusi tersebut bermuara ke sebuah kesimpulan bahwa dibutuhkan sebuah langkat kongkrit dan riil untuk membantu mensejahterakan petani, dalam hal ini petani kopi.

Blek dan anggota SYFM lainnya dalam aksi Usir LNK dari MekarJaya, Langkat

Blek dan anggota SYFM lainnya dalam aksi Usir LNK dari MekarJaya, Langkat

“Aku suka minum kopi, dan teman-teman di SYFM, SPI Sumatera Utara, dan Yayasan Sintesa juga suka minum kopi. Fakta hari ini, tren minum kopi juga semakin massif. Dimana-mana bermunculan kedai kopi, mulai yang transnasional hingga kelas kedai kopi lokal. Namun di sisi lain, kehidupan petani kopi justru berbanding terbalik dengan fenomena ini,” paparnya.

Ketika kami sedang bercengkerama, datang dua orang bergabung. Mereka adalah Zubaidah, Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Utara, dan Ijon Tuah Purba, Ketua Koperasi Petani Indonesia (KPI) Medan. Mereka pun bergabung duduk dengan kami di kursi yang mengitari meja kayu berbentuk persegi. Tak berapa lama Blek datang menghampiri sambil membawa dua bua server berisi kopi yang telah diseduh, dan empat buah gelas kecil untuk tempat menuang kopi dari server.

“Lalu kami berfikir, kenapa kita gak buat kedai kopi sendiri aja. Setelah diskusi-diskusi, akhirnya didirikanlah Minum Kopi ini yang berada langsung di bawah KPI Medan,” sambung Blek.

Fandy Ahmad, atau akrab dipanggil "Blek"

Fandy Ahmad, atau akrab dipanggil “Blek”

Sambil menuangkan kopi ke dalam gelas kacanya, Ijon Ketua KPI Medan menyambung perkataan Blek. Ia menyampaikan, KPI Medan adalah koperasi resmi dari SPI yang beranggotakan puluhan orang.

“Setelah KPI terbentuk, barulah kita anggotanya menggalang dana untuk mendirikan Minum Kopi, alhamdulillah terkumpul, dan KPI mempercayakan Blek sebagai manajer kedai kopinya,” kata Ijon.

Ijon menjelaskan, kopi yang dijual di Minum Kopi dibeli langsung dari petani, dari koperasi petani, dari organisasi tani dengan harga yang layak sehingga bisa mendukung kehidupan ekonomi petaninya.

“Kopi yang dijual di sini beras kopinya (green bean) berasal dari petani anggota SPI seperti di daerah Poco (hutan) Kuwus di daerah Mbohang, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur; ada juga dari Kepahing Bengkulu dan Limapuluhkota Sumatera Barat; sampai yang lokal seperti dari daerah Sipirok, Mandailing Natal, Karo, Simalungun, dan lainnya. Ada arabika, ada juga robusta,” paparnya.

Zubaidah, Ketua BPW SPI Sumatera Utara menambahkan, SPI yang hingga tahun 2019 mentargetkan akan membangun 1.000 koperasi di seluruh Indonesia mendukung penuh Minum Kopi. Ia menegaskan, dalam secangkir kopi yang dijual dengan harga yang cenderung mahal, terdapat jerih payah petani kopi. Maka sudah seharusnyalah, petani sebagai produsen ikut merasakan “manisnya” bisnis kopi.

Suasana di "Minum Kopi"

Suasana di “Minum Kopi”

“Selama ini kan tidak, beras kopi dijual petani ke tengkulak dengan harga murah. Belum lagi pembodohan yang diberikan ke petani kopi, seperti kopinya tidak bisa minum, kopinya untuk bubuk mesiu, agar petani kopi mau menjual beras kopinya dengan murah,” tegasnya.

“Inilah makanya diperlukan koperasi petani, yang bertugas membeli kopi petani dengan harga yang layak dan pantas, dan menopang ekonomi petani, dan ini sudah kita mulai di SPI,” lanjutnya.

Ramai

Tak lama kemudian, Blek sudah menghidangkan seporsi jamur tiram yang digoreng crispy, jamurnya diselimuti tepung, lalu diberi garam, dan merica untuk menambah citarasa.

Jamur tiram goreng crispy

Jamur tiram goreng crispy

“Nah, jamur ini juga kami beli langsung dari petani perkotaan, juga anggota SPI, di dekat sini. Pastinya jamur dibeli dengan harga yang layak. Enaknya lagi, jamurnya selalu segar, karena diantar pas baru dipetik,” terang Blek.

Blek menjelaskan, Minum Kopi memang hanya konsentrasi menjual kopi, mulai dari yang diseduh manual dengan metode V60 dan aeropress, kopi tubruk, berbasiskan espresso, latte, coldbrew, dan lainnya. Namun karena tingginya permintaan, Minum Kopi akhirnya juga menjual makanan ringan pengganjal perut.

“Kami cuma jual snack, gak ada makanan berat seperti nasi atau lainnya. Sesekali ada menu puding sawo, yang sawonya dipanen langsung dari pohonnya,” kata Blek sambil menunjukkan pohon sawo yang tertanam beberapa meter di depan Minum Kopi.

Untuk menarik pembeli, Blek menyampaikan kalau ia dan tiga orang rekannya berusaha memaksimalkan sosial media seperti instagram dan facebook. Menurutnya sosial media cukup berperan dalam meningkatkan awareness masyarakat akan hadirnya Minum Kopi.

Ketua Umum SPI Henry Saragih (kiri) sedang berbincang hangat di Minum Kopi

Ketua Umum SPI Henry Saragih (kiri) sedang berbincang hangat di Minum Kopi

“Ya, kami pakai instagram dan facebook, tapi promosi lainnya tetap dilakukan seperti mengajak teman-teman kampus, komunitas, dan keluarga untuk main kemari. Alhamdulillah di bulan pertama buka hasil penjualannya sudah melampaui target,” tuturnya.

Blek melanjutkan, kepada setiap pembeli yang datang ke Minum Kopi, ia dan timnya sedikit banyaknya akan menjelaskan asal muasal kopi, mulai dari petaninya, bean-roast bean yang bakal diseduh menjadi kopi, profil, sampai ke metode penyeduhan kopi.

“Kami buka tiap hari sekitar jam 15.00 – 24.00 WIB,” ungkapnya.

Anak Muda Penegak Kedaulatan Pangan

Sebagai seseorang yang masih berstatus “anak muda”, Blek menyampaikan, anak muda haruslah cerdas dan berada di garda terdepan dalam mengkampanyekan minum kopi yang hakiki. Karena menurutnya hingga saat ini pemahaman masyarakat banyak tentang kopi masih banyak yang harus diluruskan.

Minum Kopi_SPI_4

Blek dan tim “Minum Kopi”

“Minum kopi itu gak harus kental, gak harus manis. Minum kopi itu gak berefek buruk buat kesehatan, malah berguna bagi tubuh, asalkan kopinya kopi yang asli. Ngopi itu gak sehat kalau lebih banyak gulanya daripada kopinya, belum lagi kopinya sendiri yang bukan kopi asli, udah dicampur-campur,” sebutnya.

“Sumatera Utara khususnya, dan Indonesia umumnya punya beragam jenis kopi yang nikmat, yang diakui dunia. Dan untuk menikmati kopi enak gak harus mahal, itulah yang coba kami hadirkan di Minum Kopi,” sambungnya.

Blek menambahkan, anak muda cenderung lebih gampang menerima hal-hal baru dibandingkan mereka yang sudah “berumur”.

“Anak muda harus peduli dengan sekitarnya, seperti peduli dengan petani lokalnya, produk-produk lokalnya. Jadi ayo kita bersama berusaha mensejahterakan petani dengan membeli langsung produk tani langsung dari petaninya, dari koperasinya, dari organisasi taninya, agar kedaulatan pangan terwujud,” tutupnya.

Minum Kopi berlokasi di Jalan Eka Rasmi, Gang Eka Rasmi VI No. 7A, Medan, Sumatera Utara. Jadi jikalau anda berkesempatan ke kota Medan, jangan lupa singgahi kedai kopi satu ini.

Speak Your Mind

*