Pemerintah Harus Hentikan Impor Bawang Putih

Pemuda Tani SPI di Sumatera Utara Panen Bawang Merah.

Pemuda Tani SPI di Sumatera Utara Panen Bawang Merah.

JAKARTA. Impor bawang putih harus dihentikan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih di Jakarta pagi ini (12/05).

Menurutnya, hingga saat ini Indonesia masih bergantung dengan bawang putih impor. Ketergantungan ini akibat liberalisasi, Indonesia memasuki pasar bebas dunia di tahun 1995 yang menyebabkan produksi bawang putih kian merosot karena tidak bisa bersaing dengan impor. Setahun sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah pakta perdagangan bebas Asia-Pasifik, APEC.

“Tahun 1995, luas lahan bawang putih nasional mencapai sekitar 22 ribu hektar dengan total produksi lebih dari 279 ribu ton. Dengan volume sebesar itu, bawang putih lokal tentu saja mampu memenuhi 95 persen kebutuhan dalam negeri,” papar Henry.

Henry melanjutkan, saat itu petani bawang putih menikmati harga Rp 6.000 rupiah per kg.

“Setelah impor bawang putih dari Tiongkok masuk, harga di konsumen sudah Rp 2.250 per kilogram, padahal di lahan saja harganya masih 6.000 rupiah. Bagaimana konsumen tidak beralih ke bawang impor,” lanjutnya.

“Awalnya, Indonesia hanya mengimpor 15 persen bawang putih namun angka impor terus bertambah. Kini produksi bawang putih dalam negeri hanya sebesar 10 persen. Sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih diimpor dari Cina dan India. Jadi terbalik,” papar Henry.

Henry melanjutkan, pemerintah sebenarnya memiliki potensi untuk produksi komoditas hortikultura tersebut. Selama ini bawang putih tumbuh baik di dataran tinggi. Namun menurutnya pemerintah bisa berusaha menemukan varietas baru yang mampu tumbuh di dataran rendah ataupun dataran sedang.

“Ini yang saya pikir tidak dikembangkan riset-risetnya, karena lebih baik impor,” kata dia.

Padahal dengan pengembangan varietas baru tersebut dapat mendongkrak produksi bawang putih dalam negeri. Hal tersebut dinilai lebih baik dibanding menghabiskan devisa untuk membeli bawang putih dan komoditas impor lain termasuk kedelai dan gandum.

Selama 2017 sendiri pemerintah telah mengimpor bawang putih sebanyak 60.955 ton dengan nilai US$ 70,5 juta, sementara produksi bawang putih tidak maksimal dengan luasan lahan total hanya sekitar 2.000 hektar.

Hal senada disampaikan Ngabidin, petani SPI asal Wonosobo Jawa Tengah. Ia menyampaikan dari sisi iklim dan demografis Indonesia sangat berpotensi menjadi penghasil bawang putih terbesar di dunia. Sayangnya, seperti komoditas lain, pemerintah tidak pernah menjamin harga jual bawang putih ketika panen tiba. Akibatnya petani lebih sering merugi dan jera menanam bawang putih.

“Di Wonosono dan Temanggung contohnya, daerah sangat potensial untuk bisa menghasilkan bawang putih dengan kualitas yang bisa melebihi bawang putih ekspor,” tutupnya.

Kontak Selanjutnya:
Henry Saragih – Ketua Umum SPI – 0811 655 668

Speak Your Mind

*